Arti dan Makna Pemukulan Bedug dalam Tradisi Drugdag Cirebon -->

Arti dan Makna Pemukulan Bedug dalam Tradisi Drugdag Cirebon

Fokus Kabar
Wednesday, February 18, 2026 Last Updated 2026-02-18T13:21:37Z

Fokus Kabar (Cirebon) -
Tradisi Drugdag kembali diadakan oleh Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai bagian dari menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun ini ditandai dengan pemukulan bedug, simbol yang merepresentasikan pengumuman sekaligus ekspresi kebahagiaan umat Islam dalam menyongsong bulan penuh berkah dan pengampunan.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PR Goemelar Soeryadiningrat, mengungkapkan bahwa momen Ramadan dirayakan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, baik oleh seluruh keluarga besar keraton maupun masyarakat umum.

“Kita sebagai umat Muslim menyambut dengan penuh gembira datangnya bulan suci, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Di Keraton Kasepuhan ada karakteristik memukul bedug sebagai penanda. Kemarin juga ada masyarakat yang menyambut dengan pawai obor keliling bersama-sama, menandakan kita menyambut dengan sukacita,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama Ramadan pihak keraton secara rutin menggelar kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih di Langgar Alit hingga akhir bulan puasa.

“Alhamdulillah setiap bulan puasa kita mengadakan tadarusan atau mengaji setelah salat tarawih di Langgar Alit sampai selesai hingga akhir Ramadan,” tambahnya.

Sementara itu, Penghulu Masjid Agung Sang Ciptarasa, KH Jumhur, menjelaskan bahwa pemukulan bedug dalam tradisi Drugdag memiliki makna filosofis yang mendalam.
“Pertama, pemukulan bedug itu sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa esok hari mulai melaksanakan ibadah puasa. Mengapa dilakukan saat waktu Asar? Karena dalam penanggalan Hijriah, pergantian tanggal dimulai sejak terbenamnya matahari. Jadi ketika matahari terbenam, itulah masuk tanggal satu Ramadan,” jelasnya.


Ia menegaskan bahwa penetapan awal puasa tetap berlandaskan ajaran Rasulullah SAW, yakni dengan melihat hilal.

“Kita mengikuti apa yang disampaikan Rasul, berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya ketika melihatnya. Di keraton, semuanya berlandaskan Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah,” ungkapnya.

KH Jumhur menjelaskan filosofi di balik irama tabuhan bedug yang terbagi dalam tiga bagian utama. Tabuhan pertama merepresentasikan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Tabuhan kedua mencerminkan seruan pujian kepada Allah dengan Allah, Allah, Allah. Sementara itu, tabuhan ketiga menggambarkan makna tasbih dan ketakwaan melalui ungkapan seperti Subhanallah dan Alhamdulillah.

Tradisi Drugdag bukan hanya sekadar simbol religius, tetapi juga merupakan warisan budaya yang memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus menegaskan identitas spiritual masyarakat Cirebon dalam menyambut bulan suci Ramadan setiap tahunnya.

(herwin)
Komentar

Tampilkan

Terkini