Ratusan Warga Rebutan Air Cucian Pusaka di Siraman Panjang Keraton Kacirebonan -->

Ratusan Warga Rebutan Air Cucian Pusaka di Siraman Panjang Keraton Kacirebonan

Fokus Kabar
Wednesday, August 26, 2026 Last Updated 2026-08-26T07:56:52Z

Fokus Kabar (Cirebon) -
Ratusan warga memadati Keraton Kacirebonan dalam tradisi Siraman Panjang, salah satu rangkaian menjelang pelaksanaan Panjang Jimat. Antusiasme warga terlihat saat mereka berebut air bekas cucian tujuh piring jimat yang telah disucikan.

Suasana sempat ramai dan berdesakan. Warga yang telah menunggu sejak pagi berusaha mendapatkan air bekas cucian pusaka tersebut. Sebagian warga membawa wadah untuk menampung air yang diyakini memiliki nilai keberkahan atau karohmah.

Salah seorang warga, Karmita, mengaku telah datang sejak pukul 07.00 pagi. Ia rela ikut berdesakan bersama warga lainnya demi mendapatkan air bekas siraman.


"Saya datang dari jam tujuh pagi, ikut berdesakan untuk mendapatkan air bekas cucian piring. Harapannya bisa mendapat larohmah dan keberkahan."

Pangeran Raja Abdulgani Nata Diningrat, Sultan Keraton Kacirebonan IX menyampaikan  "Tujuh piring ini dicuci setahun sekali untuk digunakan pada acara Panjang Jimat. Piring ini digunakan untuk tumpeng dan sajian buah."

Dalam prosesi tersebut, tujuh piring jimat dicuci dan disucikan menggunakan air kembang. Piring pertama dibawa oleh Putra Mahkota Keraton Kacirebonan, Elang Raja Muhamad Kusuma Natadiningrat, kemudian piring lainnya dibawa oleh keluarga Keraton.

Setelah seluruh piring terkumpul, prosesi siraman dilakukan dengan penuh khidmat.
Sarat Makna Sejarah dan Spiritual
Tujuh piring jimat tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah sebagai peninggalan Sunan Gunung Jati, tetapi juga mengandung makna filosofis dan spiritual.


Ketujuh piring dimaknai sebagai simbol ketauhidan serta menjadi pengingat terhadap keteladanan dan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW.

Setelah disucikan, piring-piring tersebut dipersiapkan untuk digunakan sebagai wadah sajian pada malam Panjang Jimat, termasuk tumpeng dan buah-buahan.
Bagi masyarakat yang hadir, Siraman Panjang bukan sekadar tradisi tahunan. 

Antusiasme warga untuk mendapatkan air bekas cucian pusaka menunjukkan kuatnya kepercayaan terhadap nilai larohmah dan keberkahan yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Tradisi Siraman Panjang sekaligus menjadi bagian dari upaya Keraton Kacirebonan dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai leluhur agar tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Reporter : Woelan
Foto Grafer : Ali Bisma
Komentar

Tampilkan

Terkini