Fokus Kabar (Kota Cirebon) - Jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kota Cirebon terus bertambah. Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan Kota Cirebon, total pasien tercatat mencapai 395 orang, meningkat dari sebelumnya 331 orang. Kamis 22/10/26
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, mengatakan dari total tersebut, sebanyak 218 orang masih menjalani rawat inap. Sementara itu, 177 orang lainnya menjalani rawat jalan maupun telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
“Jadi, sudah ada pengurangan pasien yang dirawat. Sebanyak 218 orang masih rawat inap, sedangkan 177 lainnya rawat jalan dan ada yang sudah pulang,” ujar Siti Maria saat memberikan keterangan.
Meski jumlah kasus terus bertambah, Siti Maria memastikan kondisi pasien yang masih menjalani perawatan di rumah sakit relatif terkendali. Berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah rumah sakit, tidak ada lagi pasien yang mengalami kondisi serius hingga membutuhkan perawatan intensif.
“Alhamdulillah, kami mendapatkan informasi dari rumah sakit bahwa tidak ada lagi pasien yang kondisinya serius sehingga membutuhkan perawatan intensif. Rata-rata pasien masih mengalami diare dan membutuhkan perawatan biasa,” jelasnya.
Ia menyebutkan, penambahan jumlah pasien masih terjadi pada hari ini. Namun, pasien baru tersebut tidak seluruhnya harus menjalani rawat inap. Sebagian mendapatkan penanganan melalui instalasi gawat darurat (IGD) maupun layanan rawat jalan di puskesmas.
Dinas Kesehatan juga melakukan pendataan terhadap pasien yang mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit yang baru masuk dalam pendataan, seperti Rumah Sakit Muhammadiyah dan Rumah Sakit Permata.
Dinkes Telusuri Faktor Penyebab Penambahan Pasien
Terkait masih bertambahnya jumlah pasien, Siti Maria mengatakan pihaknya tengah berkonsultasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik untuk menelusuri kemungkinan hubungan antara waktu konsumsi makanan dan munculnya gejala gangguan kesehatan.
Menurutnya, setiap jenis bakteri atau kuman memiliki masa inkubasi yang berbeda. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan rentang waktu munculnya gejala setelah seseorang mengonsumsi makanan yang diduga menjadi penyebab.
“Kami sedang berkonsultasi dengan spesialis mikrobiologi klinik untuk mengetahui sampai hari atau jam keberapa gejala masih bisa muncul sebagai akibat dari mengonsumsi makanan tersebut. Masing-masing bakteri atau kuman memiliki masa inkubasi yang berbeda,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penentuan waktu munculnya gejala menjadi penting karena pasien juga mengonsumsi makanan lain setelah menyantap MBG. Dengan demikian, penyebab gangguan kesehatan tidak bisa langsung dipastikan hanya berdasarkan waktu konsumsi makanan tersebut.
Dinkes masih melakukan penelusuran dan pengumpulan data untuk mengetahui kemungkinan faktor yang berkontribusi terhadap bertambahnya jumlah pasien.
Kondisi Tubuh Juga Menjadi Perhatian
Siti Maria menjelaskan, jumlah orang yang mengalami gangguan kesehatan tidak selalu berkaitan dengan satu faktor saja. Selain kemungkinan adanya kontaminasi makanan, kondisi daya tahan tubuh masing-masing orang juga perlu menjadi perhatian dalam proses penyelidikan.
Menurutnya, berdasarkan data yang dimiliki, jumlah orang yang mengonsumsi makanan tersebut tidak sepenuhnya sebanding dengan jumlah warga yang mengalami gejala. Hal ini menjadi salah satu alasan perlunya pemeriksaan dan analisis lebih lanjut.
“Artinya, tidak hanya faktor makanannya atau bibit penyakitnya, tetapi juga bagaimana kondisi ketahanan tubuh masing-masing orang,” katanya.
Dinas Kesehatan Kota Cirebon terus berkoordinasi dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk memantau perkembangan pasien, memperbarui data kasus, serta memastikan warga yang mengalami gangguan kesehatan memperoleh penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Pemeriksaan epidemiologis dan kajian laboratorium menjadi bagian penting untuk memastikan faktor penyebab serta mencegah munculnya kasus serupa.




