Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas -->

Upaya Menyatukan Persepsi Budaya Panginyongan Banyumas

Fokus Kabar
Saturday, May 23, 2026 Last Updated 2026-05-23T11:09:42Z

Fokus Kabar (Banyumas) -
Upaya  untuk memperkuat identitas daerah atau lokalan banyak dilakukan daerah di Indonesia. Tujuannya, agar identitas lokalan tetap esksis dan bisa memberi sumbangsih terhadap indentitas ke-Indonesiaan masa kini.

Seperti dilakukan Unniversitas Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Jawa Tengah, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026. Diskusi digelar di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4, Rabu 20 Mei 2026.

Budaya Panginyongan adalah identitas sosial dan karakter masyarakat Banyumasan (Jawa Bagian Barat) yang menjunjung tinggi nilai egaliter, keterbukaan, dan kejujuran. Istilah Panginyongan berasa daari kata inyo, aku atau saya.

Para peserta diskusi diberi kesempatan untuk melihat-lihat Pojok Panginyongan, yakni sebuah ruangan, yang berisi aneka barang atau benda yang bercirikan identitas Pangiyongan. Yakni, barang atau benda-benda yang asli berasal dari daerah Banyumasan.

Misalnya batik, alat-alat dapur, busana pengantin,  blangkon, keris, wayang dan benda atau barang lainnya yang identik dengan Banyumasan. Peserta diskusi pun dengan antusias memperhatikan atau menyimak benda-benda berciri khas Banyumasan ini.

Diskusi yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang bertajuk Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026,  digelar Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4.

Diskusi menghadirkan sasterawan Ahmad Tohari, pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk, Budayawan Panturam Atmo Tan Sidik dan Ki Gobed Krusharto, Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas). Sedangkan pesertanya budayawan, akademisi, serta pegiat budaya dari wilayah Banyumas dan sekitarnya, seperti Kabupaten Purbalingga, Tegal dan Brebes.

Sastrawan sekaligus Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, menyampaikan, orang Banyumas berabad-abad hidup dalam dunia pertanian. 

“Di dalam dunia pertanian itu rasa hidup gotong royong sangat kuat dan bisa menjadi modal budaya dari Kabupaten banyumas untuk menjaga gotong royong,” ujar Ahmad Tohari.

Menurut Ahmad Tohari,  dalam bentuk modern gototong royong itu adalah taat kepada semua aturan dan hukum, taat membayar pajak dan tidak membuat kericuan.
“Jadi Itu semua baik untuk kepentingan nasional,” tegas Ahmad Tohari.
Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, menyampaikan, jika diskusi ini untuk menggugah kesadaran bersama menyamakan persepsi antara budaya Kabupaten Banyumas dan sekitarnya termasuk di wilayah Pantura yakni Kabupaten Brebes dan Kota Tegal. 

“Salah satu contoh penerjemahan Al Quran dalam bahasa Banyumasan sudah dilakukan. Dalam menyamakan persepsi ini, Kota Tegal juga sudah meniru yang dilakukan di Kabupaten Banyumas yakni sudah melakukan penerjamehana Al Quran ke dalam Bahasa  Tegalan,” jelas Atmo Tan Sidik.

Ki Gobed Krusharto selaku Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas), menyebut, budaya perempuan Banyumas yang jika berpakian menggunakan tapih atau kain dengan rapat, mengambarkan jika perempuan memang harus selalu menaga kehormatan.


 “Sedangkan kaum lelaki di Banyumas yang selalu menenakan ikat (pengikat) kepala atau blangkon, itu menggambarkan konsistensi dalam bersikap terhadap sesuatu yang dinilai  baik di tengah masyarakat. Keduanya, tapih dan ikat kepala atau blangkon, bisa mewarnai mozaik budaya yang ke-Indonesiaan,” ujar Ki Gobed.

Seniman Banyumas, Era Prima, mengimbau dalam pencarian identitas lokalan seharusnya dilakukan dengan lebih mengakar, untuk kemudian disambungkan dengan yang sedang berlangsung. 
“Sehingga, ada kesinambungan yang pada akhirnya bisa membentuk peradaban sebagai identitas suatu bangsa,” ucap Era Prima.

Rektor UIN Saizi, Ridwan, menyampaikan diskusi dalam rangka menyatukan persepsi tentang budaya Penginyongan itu seperti apa. Meskipun itu tdak mungkin bisa melahirkan konsep tunggal karena masing-masing kabupaten punya budaya khas sendiri-sendiri. 

“Paling tidak untuk memetakan mana masing-masing kabupaten yang mempunyai budaya besar atau dominaan yang mungkin akan sama, kemudian disepakati untuk dijadikan budaya Panginyongan,” jelas Ridwan
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta mengenai upaya menjaga eksistensi budaya Banyumasan di era modern. Para peserta juga saling berbagi pengalaman terkait pengembangan dan pelestarian budaya lokal di kabupaten/ daerag masing-masing. 



REPORTER : ALI BISMA
MEDIA : FOKUS KABAR
Komentar

Tampilkan

Terkini