Bedah Buku Lokalitas Ketanggungan Brebes, Mendorong Agar tidak ada Perasaan Minder -->

Bedah Buku Lokalitas Ketanggungan Brebes, Mendorong Agar tidak ada Perasaan Minder

Fokus Kabar
Thursday, February 19, 2026 Last Updated 2026-02-19T08:16:26Z

Fokus Kabar (Ketanggungan) - 
buku berjudul "Ketanggungan Dahulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang (1945–2026)" karya Dr. Maufur Marghub Abdul Azis, dibedah sekaligus diluncurkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hayah, Desa Bulakelor, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang dipimpin oleh KH. Ja’far Ath Thoyyar, pada Selasa 17 Pebruari 20260. 

Buku berisi tentang sejumlah tokoh berasal dari Kecamatan Ketanggungan, ditulis dengan gaya santai, tapi serius. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Guru Besar dan Dosen (FKGD) Putera Puteri Brebes di bawah naungan Yayasan Rumah Cinta Brebes. Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Lebe Agus Tarjono, dilanjutkan dengan penampilan tari topeng khas Ketanggungan.

Dr. Maufur Marghub Abdul Azis yang biasa disapa Maufur, merupakan akademisi asal Ketanggungan yang sudah berkiprah keluar dari "kandangnya" di Kota/Kabupaten Tegal. Maufur yang bergelar doktor ini, pernah dan masih menduduki "jabatan". 

Maufur pernah menjadi Wakil Wali Kota Tegal, Rektor Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal, dan juga Rektor Universitas Bhamada, Slawi, ibu kota Kabupaten Tegal. Tidak hanya itu, Maufur juga bergiat di bidang kebudayaan dan kesenian.

Bedah buku dimoderatori Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik, dan menghadirkan nara sumber yakni: Prof. Dr. Imam Yahya, dosen pascasarjana Universitas Negeri (UIN) Walisongo, Semarang; Prof. Dr. Abdul Azis, dosen Pascasarjana Universitas Siber Syeh Nurjati Cirebon. 

Imam Yahya menyebut dalam buku yang dibedah tersebut, ada seorang tokoh bernama Kyai Badawi, yang mempunyai perilaku “aneh” yakni menugasi paraa pengikutnya untuk menyusuri jalanan di Ketanggungan mencari pelacur untuk dikasih jajanan di rumahnya.

“Begitulah gaya berdakwah yang dilakukan Kiai Badawi, yang tidak mengenal latar belakang orangnya yang penting bisa sadar untuk kembali ke jalan yang benar,” ujar Imam Yahya, yang merupakan isterinya adalah keponakan Maufur, penulis buku yang dibedah.

Abdul Aziz, dengan berkelakar mengatakan jika dirinya lebih apal Ketanggungan, karena zaman sekolah sering naik angkutan/ elf yang dari jurusan Ketanggungan hendak ke Brebes. Tapi menilik buku yang sedang dibedah, Abdul Azis mengapresiasi.

“Meski ditulis dengan gaya santai tapi serius tapi juga tidak meninggalkan metodologi ilmiah,” ujar Abdul Azis, yang asli dari Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. 

Menurut Maufur, meskipun buku ini berjudul Ketanggungan Dahulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang (1945–2026), bukan berarti seluruh rentang waktu panjang tersebut diungkap secara menyeluruh. Hal itu ia sampaikan dalam prakata penulis.
“Memahami dulu dan membaca sekarang adalah fondasi untuk merancang yang akan datang. Kemajuan tidak boleh tercerabut dari akar jati diri,” jelasnya.

Budayawan Atmo Tan Sidik, menyampaikan, jika saat ini seperti ada perasaan minder mengakui lokalitas. Tetapi ketika muncul fenomena tidak sedikit tokoh hebat asal lokal atau  desa  baru ada semangat. Buku ini menceritakan tentang Pak Maufur yang berasal dari Ketanggungan tapi bisa eskis menduduki jabatan yang bergengsi.

"Sehingga perlu diekpos, dan iharapkan dapat menimbulkan semangt lokalitas bahwa orang atau tokoh dari desa bisa mengorbit," jelas Atmo Tan Sidik. 

Caption:  Penulis buku "Ketanggungan Dahulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang (1945–2026)", Dr. Maufur Marghub Abdul Azis (berdiri) dan para nara sumber bedah buku di Ponpes Nurul Hayah, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. 
Brebes Kamis 19 Februari 2026


Reporter.         : Als
Media.             : Fokus Kabar
Website.         : www.fokuskabar.com
Komentar

Tampilkan

Terkini